Cerita Sexsex Puas Mamak Sahabatku Yang Mantap

Cerita Sexsex Puas Mamak Sahabatku Yang Mantap

Sexsex Puas - Aku masih saja belum mendapat pasangan atau kekasih padahal umurku sudah berkepala 3 , dan aku pun sudah siap untuk menikah, padahal aku sudha bekerja dan bisa dibilang mapan untuk mengurus sebuah rumah tangga, tapi aku juga belum kepikiran untuk menikah karena masih terbawa rasa petualang cinta, dan sejak umur 20an aku sudah melakukan hal tersebut.

Waktu itu aku masih kelas 3 SMU. Hari itu aku ada janji dengan Roma, sahabatku di sekolah. Rencananya dia mau mengajakku jalan-jalan ke Mall A?a,?EsXA?a,?a”? sekedar menghilangkan kepenatan setelah seminggu penuh digojlok latihan sepak bola habis-habisan.

Sejam lebih aku menunggu di warung depan gang rumah pamanku (aku tinggal numpang di rumah paman, karena aku sekolah di kota yang jauh dari tempat tinggal orangtuaku yang di desa). Jalan ke Mall A?a,?EsXA?a,?a”? dari rumah Roma melewati tempat tinggal pamanku itu, jadi janjinya aku disuruh menunggu di warung pinggir jalan seperti biasa.


Aku mulai gelisah, karena biasanya Roma selalu tepat janji. Akhirnya aku menuju ke telepon umum yang ada di dekat situ, pengin nelpon ke rumah Roma, memastikan dia sudah berangkat atau belum (waktu itu HP belum musim bro, paling juga pager yang sudah ada, tapi itupun kami tidak punya).

“Sialan.. telkom ini, barang rongsokan di pasang di sini!,” gerutuku karena telpon koin yang kumasukkan keluar terus dan keluar terus. Setelah uring-uringan sebentar, akhirnya kuputuskan untuk ke rumah Roma. Keputusan ini sebenarnya agak konyol, karena itu berarti aku berbalik arah dan menjauh dari Mall A?a,?EsXA?a,?a”? tujuan kami, belum lagi kemungkinan bersimpang jalan dengan Roma.

Tapi, kegelisahanku mengalahkan pertimbangan itu. Akhirnya, setelah titip pesan pada penjual di warung kalau-kalau Roma datang, aku langsung menyetop angkot dan menuju ke rumah Roma.

Sesampai di rumah Roma, kulihat suasananya sepi. Padahal sore-sore begitu biasanya anggota keluarga Roma (Papa, Mama dan adik-adik Roma, serta kadang pembantunya) pada ngobrol di teras rumah atau main badminton di gang depan rumah. Setelah celingak-celinguk beberapa saat, kulihat pembantu di rumah Roma keluar dari pintu samping.

“Bi.. Bibi.. kok sepi.. pada kemana yah?” tanyaku. Aku terbilang sering main ke rumah Roma, begitu juga sebaliknya Roma sering main ke rumah pamanku, tempatku tinggal. Jadi aku sudah kenal baik dengan semua penghuni rumah Roma, termasuk pembantu dan sopir papanya.

“Eh, mas Dedi.. pada pergi mas, pada ikut ndoro kakung (juragan laki-laki). Yang ada di rumah cuman ndoro putri (juragan wanita),” jawabnya dengan ramah.
“Oh.. jadi Roma ikut pergi juga ya Bi. Ya sudah kalau begitu, lain waktu saja saya ke sini lagi,” jawabku sambil mau pergi.
“Lho, nggak mampir dulu mas Dedi. Mbok ya minum-minum dulu, biar capeknya hilang.”
“Makasih Bi, sudah sore ini,” jawabku

Baru aku mau beranjak pulang, pintu depan tiba-tiba terbuka. Ternyata Tante Kinanti, mama Roma yang membuka pintu.

“Bibi ini gimana sih, ada tamu kok nggak disuruh masuk?”, katanya sambil sedikit mendelik pada si pembantu.
“Udah ndoro, sudah saya suruh duduk dulu, tapi mas Dedi nggak mau,” jawabnya.
“Eh, nak Dedi. Kenapa di luaran aja. Ayo masuk dulu,” kata Tante Kinanti lagi.
“Makasih tante. Lain waktu aja saya main lagi tante,” jawabku.
“Ah, kamu ini kayak sama orang lain saja. Ayo masuk sebentar lah, udah datang jauh-jauh kok ya balik lagi. Ayo masuk, biar dibikin minum sama bibi dulu,” kata Tante Kinanti lagi sambil melambai ke arahku.

Aku tidak bisa lagi menolak, takut membuat Tante Kinanti tersinggung. Kemudian aku melangkah masuk dan duduk di teras, sementara Tante Kinanti masih berdiri di depan pintu.
“Nak Dedi, duduk di dalem saja. Tante lagi kurang enak badan, tante nanti nggak bisa nemenin kamu kalau duduk di luar.”

“Ya tante,” jawabku sambil masuk ke rumah dengan perasaan setengah sungkan.
“Roma ikut Om pergi kemana sih tante?” tanyaku basa-basi setelah duduk di sofa di ruang tamu.
“Pada ke *kota X*, ke rumah kakek. Mendadak sih tadi pagi. Soalnya om-mu itu kan jarang sekali libur. Sekali boleh cuti, langsung mau nengok kakek.”
“Ehm.. tante nggak ikut?”
“Besuk pagi rencananya tante nyusul. Soalnya hari ini tadi tante nggak bisa ninggalin kantor, masih ada yang mesti diselesaiin,” jawab Tante Kinanti. “Emangnya Roma nggak ngasih tahu kamu kalau dia pergi?”


“Nggak tante,” jawabku sambil sedikit terheran-heran. Tidak biasanya Tante Kinanti menyebutku dengan
“kamu”. Biasanya dia menyebutku dengan “nak Dedi”.
“Kok bengong!” Tanya Tante Kinanti membuatku kaget.
“Eh.. anu.. eh..,” aku tergugup-gugup.
“Ona-anu, ona-anu. Emang anunya siapa?” Tante Kinanti meledek kegugupanku yang membuatku makin jengah. Untung Bibi segera datang membawa secangkir teh hangat, sehingga rasa jengahku tidak berkepanjangan.

“Mas Dedi, silakan tehnya dicicipin, keburu dingin nggak enak,” kata bibi sambil menghidangkan teh di depanku.
“Makasih Bi,” jawabku pelan.
“Itu tehnya diminum ya, tante mau mandi dulu.. bau,” kata Tante Kinanti sambil tersenyum. Setelah itu Tante Kinanti dan pembantunya masuk ke ruang tengah. Sementara aku mulai membaca-baca koran yang ada di meja untuk.

Hampir setengah jam aku sendirian membaca koran di ruang tamu, sampai akhirnya Tante Kinanti nampak keluar dari ruang tengah.

Dia memakai T-shirt warna putih dipadu dengan celana ketat di bawah lutut. Harus kuakui, meskipun umurnya sudah 40-an namun badannya masih bRoma. Kulitnya putih bersih, dan wajahnya meskipun sudah mulai ada kerut di sana-sini, tapi masih jelas menampakkan sisa-sisa kecantikannya.
“Eh, ngapain kamu ngliatin tante kayak gitu. Heran ya liat nenek-nenek.”

“Mati aku!” kataku dalam hati. Ternyata Tante Kinanti tahu sedang aku perhatikan. Aku hanya bisa menunduk malu, mungkin wajahku saat itu sudah seperti udang rebus.
“Heh, malah bengong lagi,” katanya lagi. Kali ini aku sempat melihat Tante Kinanti tersenyum yang membuatku sedikit lega tahu kalau dia tidak marah.

“Maaf tante, nggak sengaja,” jawabku sekenanya.
“Mana ada nggak sengaja. Kalau sebentar itu nggak sengaja, lha ini lama gitu ngeliatnya,” kata Tante Kinanti lagi. Meskipun masih merasa malu, namun aku agak tenang karena kata-kata Tante Kinanti sama sekali tidak menunjukkan sedang marah.
“Kata Roma, kamu mau pertandingan sepakbola di sekolah ya?” Tanya Tante Kinanti.
“Eh, iya tante. Pertandingan antar SMU se-kota. Tapi masih dua minggu lagi kok tante, sekarang-sekarang ini baru tahap penggojlokan,” Aku sudah mulai tenang kembali.
“Pelajaran kamu terganggu nggak?”

“Ya sebenarnya lumayan menggangu tante, habisnya latihannya belakangan ini berat banget, soalnya sekolah sengaja mendatangkan pelatih sepakbola beneran.
Tapi, sekolah juga ngasih dispensasi kok tante. Jadi kalau capeknya nggak ketulungan, kami dikasih kesempatan untuk nggak ikut pelajaran. Kalau nggak begitu, nggak tahu lah tante. Soalnya kalau badan udah pegel-pegel, ikut pelajaranpun nggak konsen.”

“Kalau pegel-pegel kan tinggal dipijit saja,” kata Tante Kinanti.
“Masalahnya siapa yang mau mijit tante?”
“Tante mau kok,” jawab Tante Kinanti tiba-tiba.
“Ah, tante ini becanda aja,” kataku.
“Eh, ini beneran. Tante mau mijitin kalau memang kamu pegel-pegel. Kalau nggak percaya, sini tante pijit,” katanya lagi.
“Enggak ah tante. Ya, saya nggak berKinanti tante. Nggak sopan,” jawabku sambil menunduk setelah melihat Tante Kinanti nampak sungguh-sungguh dengan kata-katanya.

“Lho, kan tante sendiri yang nawarin, jadi nggak ada lagi kata nggak sopan. Ayo sini tante pijit,” katanya sambil memberi isyarat agar aku duduk di sofa di sebelahnya. Penyakit gugupku kambuh lagi. Aku hanya diam menunduk sambil mempermainkan jari-jariku.

“Ya udah, kalau kamu sungkan biar tante ke situ,” katanya sambil berjalan ke arahku. Sebentar kemudian sambil berdiri di samping sofa, Tante Kinanti memijat kedua belah pundakku. Aku hanya terdiam, tidak tahu persis seperti apa perasaanku saat itu.


Setelah beberapa menit, Tante Kinanti menghentikan pijitannya. Kemudian dia masuk ke ruang tengah sambil memberi isyarat padaku agar menunggu. Aku tidak tahu persis apa yang dilakukan Tante Kinanti setelah itu. Yang aku tahu, aku sempat melihat bibi pembantu keluar rumah melalui pintu samping, yang tidak lama kemudian disusul Tante Kinanti yang keluar lagi dari ruang tengah.

“Bibi tante suruh beli kue. Kue di rumah sudah habis,” katanya seolah menjawab pertanyaan yang tidak sempat kuucapkan. “Ayo sini tante lanjutin mijitnya. Pindah ke sini aja biar lebih enak,” kali itu aku hanya menurut saja pindah ke sofa panjang seperti yang disuruh Tante Kinanti.

Kemudian aku disuruh duduk menyamping dan Tante Kinanti duduk di belakangku sambil mulai memijit lagi.

“Gimana, enak nggak dipijit tante?” Tanya Tante Kinanti sambil tangannya terus memijitku. Aku hanya mengangguk pelan.

“Biar lebih enak, kaosnya dibuka aja,” kata Tante Kinanti kemudian. Aku diam saja. Bagaimana mungkin aku berKinanti membuka kaosku, apalagi perasaanku saat itu sudah tidak karuan.

“Ya sudah. Kalau gitu, biar tante bantu bukain,” katanya sambil menaikkan bagian bawah kaosku. Seperti kena sihir aku menurut saja dan mengangkat kedua tanganku saat Tante Kinanti membuka kaosku.
Setelah itu Tante Kinanti kembali memijitku. Sekarang tidak lagi hanya pundakku, tapi mulai memijit punggung dan kadang pinggangku. Perasaanku kembali tidak karuan, bukan hanya pijitannya kini, tapi sepasang benda empuk sering menyentuh bahkan kadang menekan punggungku.

Meski seumur-umur aku belum pernah menyentuh payudara, tapi aku bisa tahu bahwa benda empuk yang menekan punggungku itu adalah sepasang payudara Tante Kinanti.


Beberapa lama aku berada dalam situasi antara merasa nyaman, malu dan gugup sekaligus, sampai akhirnya aku merasakan ada benda halus menelusup bagian depan celanaku. Aku terbelalak begitu mengetahui yang menelusup itu adalah tangan Tante Kinanti.

“Tante.. ” kataku lirih tanpa aku sendiri tahu maksud kataku itu. Tante Kinanti seperti tidak mempedulikanku, dia malah sudah bergeser ke sampingku dan mulai membuka kancing serta retsluiting celanaku. Sementara itu aku hanya terdiam tanpa tahu harus berbuat apa. Sampai akhirnya aku mulai bisa melihat dan merasakan Tante Kinanti mengelus penisku dari luar CD-ku.

Aku merasakan sensasi yang luar biasa. Sesuatu yang baru pertama kali itu aku rasakan. Belum lagi aku sadar sepenuhnya apa yang terjadi, aku mendapati penisku sudah menyembul keluar dan Tante Kinanti sudah menggenggamnya sambil sesekali membelai-belainya. Setelah itu aku lebih sering memejamkan mata sambil sekali-kali melirik ke arah penisku yang sudah jadi mainan Tante Kinanti.
Tak berapa lama kemudian aku merasakan kenikmatan yang jauh lebih mencengangkan. Kepala penisku seperti masuk ke satu lubang yang hangat. Ketika aku melirik lagi, kudapati kepala penisku sudah masuk ke mulut Tante Kinanti, sementara tangannya naik turun mengocok batang penisku.

Aku hanya bisa terpejam sambil mendesis-desis keenakan. Beberapa menit kemudian aku merasakan seluruh tubuhku mulai mengejang. Aku merasakan Tante Kinanti melepaskan penisku dari mulutnya, tapi mempercepat kocokan pada batang penisku.

“Sssshhhh.. creettt creett ” Sambil mendesis menikmati sensasi rasa yang luar biasa aku merasakan cairan hangat menyemprot sampai ke dadaku, cairan air mKinanti ku sendiri.
“Ah, dasar anak muda, baru segitu aja udah keluar,” Tante Kinanti berbisik di dekat telingaku. Aku hanya menatap kosong ke wajah Tante Kinanti, yang aku tahu tangannya tidak berhenti mengelus-elus penisku. “Tapi ini juga kelebihan anak muda. Udah keluarpun, masih kenceng begini,” bisik Tante Kinanti lagi.


Setelah itu aku lihat Tante Kinanti melepas T-Shirtnya, kemudian berturut-turut, BH, celana dan CD-nya. Aku terus terbelalak melihat pemandangan seperti itu. Dan Tante Kinanti seperti tidak peduli kemudian meluruskan posisi ku, kemudian dia mengangkang duduk di atasku. Selanjutnya aku merasakan penisku digenggam lagi, kali ini di arahkan ke selangkangan Tante Kinanti.
“Sleppp…. Aaaaahhhhh… ” suara penisku menembus vagina Tante Kinanti diiringi desahan panjangnya. Kemudian Tante Kinanti bergerak turun naik dengan cepat sambil mendesah-desah. Mulutnya terkadang menciumi dada, leher dan bibirku.

Ada beberapa menit Tante Kinanti bergerak naik turun, sampai akhirnya dia mempercepat gerakannya dan mulai menjerit-jerit kecil dengan liarnya. Akupun kembali merasakan kenikmatan yang luar biasa. Tak lama kemudian…
“Aaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhh…….. ,” Tante Kinanti melenguh panjang, bersamaan dengan teriakanku yang kembali merasakan puncak yang kedua kali. Setelah itu Tante Kinanti terkulai, merebahkan kepalanya di dadaku sambil memeluk pundakku.

“Terima kasih Dik…,” bisiknya lirih diteruskan kecupan ke bibirku.
Sejak kejadian itu, aku mengalami syok. Rasa takut dan bersalah mulai menghantui aku. Sulit membayangkan seandainya Roma mengetahui kejadian itu. Perubahan besar mulai terjadi pada diriku, aku mulai sering menyendiri dan melamun.

Namun selain rasa takut dan bersalah, ada perasaan lain yang menghinggapi aku. Aku sering terbayang-bayang Tante Kinanti dia telanjang bulat di depanku, terutama waktu malam hari, sehingga aku tiap malam susah tidur. Selain seperti ada dorongan keinginan untuk mengulangi lagi apa yang telah Tante Kinanti lakukan padaku.

Perubahan pada diriku ternyata dirasakan juga oleh paman dan bibiku dan juga teman-temanku, termasuk Roma. Tentu saja aku tidak menceritakan kejadian yang sebenarnya. Situasi seperti itu berlangsung sampai seminggu lebih yang membuat kesehatanku mulai drop akibat tiap malam susah tidur, dan paginya tetap kupaksakan masuk sekolah.


Akibat dari itu pula, akhirnya aku memilih mundur dari tim sepakbola sekolahku, karena kondisiku tidak memungkinkan lagi untuk mengikuti latihan-latihan berat.
Kira-kira seminggu setelah kejadian itu, aku berjalan sendirian di trotoar sepulang sekolah. Aku menuju halte yang jaraknya sekitar 300 meter dari sekolahku. Sebenarnya persis di depan sekolahku juga ada halte untuk bus kota, namun aku memilih halte yang lebih sepi agar tidak perlu menunggu bus bareng teman-teman sekolahku.

Saat asyik berjalan sambil menunduk, aku dikejutkan mobil yang tiba-tiba merapat dan berhenti agak di depanku. Lebih terkejut lagi saat tahu itu mobil itu mobil papanya Roma. Setelah memperhatikan isi dalam mobil, jantungku berdesir. Tante Kinanti yang mengendari mobil itu, dan sendirian.
“Dik, cepetan masuk, ntar keburu ketahuan yang lain,” panggil Tante Kinanti sambil membuka pintu depan sebelah kiri. Sementara aku hanya berdiri tanpa bereaksi apa-apa.
“Cepetan sini!” kali ini suara Tante Kinanti lebih keras dan wajahnya menyiratkan kecemasan.
“I.. Iya.. tante,” akhirnya aku menuruti panggilan Tante Kinanti, dan bergegas masuk mobil.
“Nah, gitu. Keburu ketahuan temen-temenmu, repot.” kata Tante Kinanti sambil langsung menjalankan mobilnya.

Di dalam mobil aku hanya diam saja, meskipun aku bisa sedikit melihat Tante Kinanti beberapa kali menengok padaku.
“Tumben kamu nggak bareng Roma,” Tanya Tante Kinanti tiba-tiba.
“Enn.. Enggak tante. Saya lagi pengin sendirian saja. Tante nggak sekalian jemput Roma?” aku sudah mulai menguasai diriku.

“Kan, emang Roma nggak pernah dijemput,” jawab Tante Kinanti.
“Eh, iya ya,” jawabku seperti orang bloon.
Setelah itu kami lebih banyak diam. Tante Kinanti mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Setelah sampai di sebuah komplek pertokoan Tante Kinanti melambatkan mobilnya sambil melihat-lihat mungkin mencari tempat parkir yang kosong. Setelah memarkirkan mobilnya, yang sepertinya mencari tempat yang agak jauh dari pusat pertokoan, Tante Kinanti mengajak aku turun.
Setelah turun, Tante Kinanti langsung menyetop taksi yang kebetulan sedang melintas. Terlihat dia bercakap-cakap dengan sopir taksi sebentar, kemudian langsung memanggilku supaya ikut naik taksi. Setelah masuk taksi,

Tante Kinanti memberi isyarat padaku yang terbengong-bengong supaya diam, kemudian dia menyandarkan kepalanya pada jok taksi dan memejamkan matanya, entah kecapaian atau apa. Kira-kira 20 menit kemudian taksi memasuki pelataran sebuah hotel di pinggiran kota.

“Dik, kamu masuk duluan, kamu langsung aja. Ada kamar nganggur yang habis dipakai tamu kantor tante. Nanti tante nyusul,” kata Tante Kinanti memberikan kunci kamar hotel sambil setengah mendorongku agar keluar.


Kemudian aku masuk ke hotel, aku memilih langsung mencari petunjuk yang ada di hotel itu daripada tanya ke resepsionis. Dan memang tidak sulit untuk mencari kamar dengan nomor seperti yang tertera di kunci. Singkat cerita aku sudah masuk ke kamar, namun hanya duduk-duduk saja di situ.

Kira-kira 15 menit kemudian terdengar ketukan di pintu kamar, ternyata Tante Kinanti. Dia langsung masuk dan duduk di pinggir ranjang.

“Roma bilang kamu keluar dari tim sepakbola ya?!” tanyanya tanpa ba-bi-bu dengan nada agak tinggi.
“I.. iya tante,” jawabku pelan.
“Kamu juga nggak pernah lagi kumpul sama temen-temen kamu, nggak pernah main lagi sama Roma,” Tante Kinanti menyemprotku yang hanya bisa diam tertunduk.
“Kamu tahu, itu bahaya. Orang-orang dan keluargaku bisa tahu apa yang sudah terjadi.. ,” kata-kata Tante Kinanti terputus dan terdengar mulai sedikit sesenggukan.
“Tapi.. saya nggak pernah ngasih tahu siapa-siapa,” kataku.
“Memang kamu belum ngasih tahu, tapi kalau ditanyain terus-terusan bisa-bisa kamu cerita juga,” katanya lagi sambil sesenggukan. “Apa yang terjadi dengan keluarga tante jika semuanya tahu!”
“Tante memang salah, tante yang membuat kamu jadi begitu,” kata Tante Kinanti, kali ini agak lirih sambil menahan tangisnya. “Tapi kalau kamu merasakan seperti yang tante rasakan..” terputus lagi.
“Merasakan apa tante?”

Akhirnya Tante Kinanti cerita panjang lebar tentang rumah tangganya. Tentang suaminya yang sibuk mengejar karir, sehingga hampir tiap hari pulang malam, dan jarang libur. Tentang kehidupan seksualnya sebagai akibat dari kesibukan suaminya, serta beratnya menahan hasrat biologisnya akibat dari semua itu.

“Kalau kamu mau marah, marahlah. Entah kenapa, tante nggak sanggup lagi menahan dorongan birahi waktu kamu ke rumah minggu kemarin.
Terserah kamu mau menganggap tante kayak apa, yang penting kamu sudah tahu masalah tante. Sekarang kalau mau pulang, pulanglah, tante yang ngongkosin taksinya,” kata Tante Kinanti lirih sambil membuka tasnya, mungkin mau mengeluarkan dompet.

“Nggak.. nggak usah tante.. ” aku mencegah. “Saya belum mau pulang, saya nggak mau membiarkan tante dalam kesedihan.
” Entah pengaruh apa yang bisa membuatku seketika bisa bersikap gagah seperti itu. Aku hampiri Tante Kinanti, aku elus-elus kepalanya. Hilang sudah perasaan sungkanku padanya. Tante Kinanti kemudian memeluk pinggangku dan membenamkan kepalanya dalam pelukanku.

Setelah beberapa lama, aku duduk di samping Tante Kinanti. Kuusap-usap dan sibakkan rambutnya. Kusap pipinya dari airmata yang masih mengalir.

Pelahan kucium keningnya. Kemudian, entah siapa yang mulai tiba-tiba bibir kami sudah saling bertemu. Ternyata, kalau tidak sedang merasa sungkan atau takut, aku cukup lancar juga mengikuti naluri kelelakianku.


Cukup lama kami berciuman bibir, dan makin lama makin liar. Aku mulai mengusap punggung Tante Kinanti yang masih memakai baju lengkap, dan kadang turun untuk meremas pantatnya. Tante Kinanti pun melakukan hal yang sama padaku.

Tante Kinanti sepertinya kurang puas bercumbu dengan pakaian lengkap. Tangannya mulai membuka kancing baju seragam SMU-ku, kemudian dilepasnya berikut kaos dalam ku. Kemudian dia melepaskan pelukanku dan berdiri.

Pelan-pelan dia membuka pakain luarnya, sampai hanya memakai CD dan BH. Meskipun aku sudah melihat Tante Kinanti telanjang, tapi pemandangan yang sekarang ada di depanku jauh membuat nafsuku bergejolak, meskipun masih tertutup CD dan BH. Aku langsung berdiri, kupeluk dan kudorong ke arah dinding, sampai kepala Tante Kinanti membentur dinding, meski tidak begitu keras.

“Ah, pelan-pelan doonnng,” kata Tante Kinanti manja diiringi desahannya desahannya.
Aku semakin liar saja. Kupagut lagi bibir Tante Kinanti, sambil tanganku meremas-remas buah dadanya yang masih memakai BH. Tante Kinanti tidak mau kalah, bahkan tangannya sudah mulai melepaskan melorotkan celana luar dan dalamku.

Kemudian, diteruskannya dengan menginjaknya agar bisa melorot sempurna. Aku bantu upaya Tante Kinanti itu dengan mengangkat kakiku bergantian, sehingga akhirnya aku sudah telanjang bulat.
Setelah itu Tante Kinanti membantuku membuka pengait BH-nya yang ada di belakang. Rupanya dia tahu aku kesulitan untuk membuka BH-nya. Sekarang aku leluasa meremas-remas kedua buah dada Tante Kinanti yang cukup besar itu, sedang Tante Kinanti mulai mengelus dan kadang mengocok penisku yang sudah sangat tegang.

Kemudian tante setengah menjambak Tante Kinanti mendorong kepalaku di arahkan ke buah dadanya yang sebelah kiri. Kini puting susu itu sudah ada di dalam mulutku, kuisap-isap dan jilati mengikuti naluriku.

“Aaaaahh….. oooouhghhh… ” desahan Tante Kinanti makin keras sambil tangannya tak berhenti mempermainkan penisku.

Beberapa kali aku isap puting susu Tante Kinanti bergantian, mengikuti sebelah mana yang dia maui. Setelah puas buah dadanya aku mainkan, Tante Kinanti mendorong tubuhku pelan ke belakang. Kemudian dia berputar, berjalan mundur sambil menarikku ke arah ranjang.

Sampai di pinggir ranjang, Tante Kinanti sengaja menjatuhkan dirinya sehingga sekarang dia telentang dengan aku menindih di atasnya, sementara kakinya dan kakiku masih menginjak lantai. Setelah itu, dia berusaha melorotkan CD-nya, yang kemudian aku bantu sehingga Tante Kinanti kini untuk kedua kalinya telanjang bulat di depanku.

Usai melepas CD-nya aku masih berdiri memelototi pemandangan di depanku. Tante Kinanti yang telentang dengan nafas memburu dan mata agak sayu menatapku. Gundukan di selangkangannya yang ditumbuhi bulu tidak begitu lebat nampak benar menantang, seperti menyembul didukung oleh kakinya yang masih menjuntai ke lantai.


Bibir vaginanya nampak mengkilap terkena cairan dari dalamnya. (Waktu itu aku belum bisa menilai dan membanding-bandingkan buah dada, mana yang kencang, bRoma dan sebagainya. Paling hanya besar-kecilnya saja yang bisa aku perhatikan).
“Sini sayaangg.. ,” panggil Tante Kinanti yang melihat aku berdiri memandangi tiap jengkal tubuhnya. Aku menghampirinya, menindih dan mencoba memasukkan penisku ke lubang vaginanya. Tapi, Tante Kinanti menahanku. Nampak dia menggeleng sambil memandangku. Kemudian tiba-tiba kepalaku didorong kebawah.

Terus didorong cukup kuat sampai mulutku persis berada di depan lubang vaginanya. Setelah itu Tante Kinanti berusaha agar mulutku menempel ke vaginanya. Awalnya aku ikuti, tapi setelah mencium bau yang aneh dan sangat asing bagiku, aku agak melawan.
Mengetahui aku tidak mau mengikuti kemauannya, dia bangun. Ditariknya kedua tanganku agar aku naik ke ranjang, ditelentangkannya tubuhku. Sempat aku melihat bibirnya tersenyum, sebelum di mengangkang tepat di atas mulutku.

“Bleepp… ” aku agak gelagapan saat vagina Tante Kinanti ditempel dan ditekankan di mulutku. Tante Kinanti memberi isyarat agar aku tidak melawan, kemudian pelan-pelan vaginanya digesek-gesekkan ke mulutku, sambil mulutnya mendesis-desis tidak karuan.

Aku yang awalnya rada-rada jijik dengan cairan dari vagina Tante Kinanti, sudah mulai familiar dan bisa menikmatinya. Bahkan, secara naluriah, kemudian ku keluarkan lidahku sehingga masuk ke lubang vagina Tante Kinanti.

“Oooohhh… sssshhh… pinter kamu sayang… oh… ” gerakan Tante Kinanti makin cepat sambil meracau. Tiba-tiba, dia memutar badannya. Kagetku hanya sejenak, berganti kenikmatan yang luar biasa setelah penisku masuk ke mulut Tante Kinanti.

Aku merasakan kepala penisku dikulum dan dijilatinya, sambil tangannya mengocok batang penisku. Sementara itu, vaginanya masih menempel dimulutku, meskipun gesekannya sudah mulai berkurang. Sambil menikmati aku mengelus kedua pantat Tante Kinanti yang persis berada di depan mataku.
Setelah puas dengan permainan seperti itu, Tante Kinanti mulai berputar dan bergeser. Masih mengangkang, tapi tidak lagi di atas mulutku, kali ini tepat di atas ujung penisku yang tegak.
“Sleep.. blesss… ooooooooooooohhhhhh,” penisku menancap sempurna di dalam vagina Tante Kinanti diikuti desahan panjangnya, yang malah lebih mirip dengan lolongan.

Tante Kinanti bergerak naik turun sambil mulutnya meracau tidak karuan. Tidak seperti yang pertama waktu di rumah Tante Kinanti, kali ini aku tidak pasif. Aku meremas kedua buah dada Tante Kinanti yang semakin menambah tidak karuan racauannya.

Rupanya, aksi Tante Kinanti itu tidak lama, karena kulihat tubuhnya mulai mengejang. Setengah menyentak dia luruskan kakinya dan menjatuhkan badannya ke badanku.

“Ooooooooohhh…. Aaaaaaaaahhh….. ” Tante Kinanti ambruk, terkulai lemas setelah mencapai puncak.
Beberapa saat dia menikmati kepuasannya sambil terkulai di atasku, sampai kemudian dia berguling ke samping tanpa melepas vaginanya dari penisku, dan menarik tubuhku agar gantian menindihnya.
Sekaraang gantian aku mendorong keluar-masuk penisku dari posisi atas. Tante Kinanti terus membelai rambut dan wajahku, tanpa berhenti tersenyum. Beberapa waktu kemudian aku mempercepat sodokanku, karena terasa ada bendungan yang mau pecah.


“Tanteeeeee……. Oooooohhh……. ” gantian aku yang melenguk panjang sambil membenamkan penisku dalam-dalam. Tante Kinanti menarik tubuhku menempel ketat ke dadanya, saat aku mencapai puncak.

Setelah sama-sama mencapai puncak kenikmatan, aku dan Tante Kinanti terus ngobrol sambil tetap berpelukan yang diselingi dengan ciuman. Waktu ngobrol itu pula Tante Kinanti banyak memberi tahu tentang seks, terutama bagian-bagian sensitif wanita serta bagaimana meng-eksplor bagian-bagian sensitif itu.

Setelah jam 4 sore, Tante Kinanti mengajak pulang. Aku sebenarnya belum mau pulang, aku mau bersetubuh sekali lagi. Tapi Tante Kinanti berkeras menolak.
“Tante janji, kamu masih terus bisa menikmati tubuh tante ini. Tapi ingat, kamu harus kembali bersikap seperti biasa, terutama pada Roma. Dan kamu harus kembali ke tim sepakbola. Janji?”
“He-em,” aku menganggukkan kepala.

“Ingat, kalau kamu tepat janji, tante juga tepat janji. Tapi kalau kamu ingkar janji, lupakan semuanya. Oke?” Aku sekali mengangguk.

Sebelum aku dan Tante Kinanti memakai pakaian masing-masing, aku sempatkan mencium bibir Tante Kinanti dan tak lupa bibir bawahnya. Setelah selesai berpakaian, Tante Kinanti memberiku ongkos taksi dan menyuruhku pulang duluan.

Sejak itu perasaanku mulai ringan kembali, dan aku sudah normal kembali. Aku juga bergabung kembali ke tim sepakbola sekolahku, yang untungnya masih diterima. Dari sepakbola itulah yang kemudian memuluskan langkahku mencari kerja kelak.

Dan Tante Kinanti menepati janjinya. Dia benar-benar telah menjadi pasangan kencanku, dan guru sex-ku sekaligus. Paling sedikit seminggu sekali kami melakukannya berpindah-pindah tempat, dari hotel satu ke hotel yang lain, bahkan kadang-kadang keluar kota. Tentu saja kami melakukannya memakai strategi yang matang dan hati-hati, agar tidak diketahui orang lain, terutama keluarga Tante Kinanti.

Sejak itu pula aku mengalami perubahan yang cukup drastis, terutama dalam pergaulanku dengan teman-teman cewek. Aku yang awalnya dikenal pemalu dan jarang bergaul dengan teman cewek, mulai dikenal sebagai play boy.

Sampai lulus SMU, beberapa cewek baik dari sekolahku maupun dari sekolah lain sempat aku pacari, dan beberapa di antaranya berhasil kuajak ke tempat tidur. (Lain waktu, kalau sempat saya ceritakan petualangan saya tersebut).


Begitulah kisah awalku dengan Tante Kinanti, yang akhirnya merubah secara drastis perjalanan hidupku ke depannya. Sampai saat ini, aku masih berhubungan dengan Tante Kinanti, meskipun paling-paling sebulan atau dua bulan sekali.

Meskipun dari segi daya tarik seksual Tante Kinanti sudah jauh menurun, namun aku tidak mau melupakannya begitu saja. Apalagi, Tante Kinanti tidak pernah berhubungan dengan pria lain, karena dianggapnya resikonya terlalu besar.
Begitulah, Tante Kinanti yang terjepit antara hasrat seksual menggebu yang tak terpenuhi dengan status sosial yang harus selalu dijaga.

Klik Games-NYA

Share:

Cerita Sexsex Puas Petualangan Panas Tengah Malam di Komplek

Cerita Sexsex Puas Petualangan Panas Tengah Malam di Komplek

Sexsex Puas - Malam itu aku selesei tugas mengantarkan penumpang dan nongkrong di kantin bersama para mekanik yang sedang lembur memperbaiki salah satu bus. Waktu menunjukan pukul setengah 2 dini hari dan aku masih belum merasa ngantuk.. kebetulan keesokan harinya aku pas jatah libur dan rencanaku cuma mau maen ke kost Rani dan ngentot sehaRanin ama dia yang juga libur kuliah.

Berharap juga bisa curi curi kesempatan buat quick play ama si Resti. Haha.. Tiba2 HP ku bunyi, dan kulihat ada bbm dari Rani.. aku sempet mikir kenapa dia jam segini masih melek. Setelah kubuka dan kubaca isinya malah buat aku panik dan mikir yang aneh2 dengan keadaan Rani. Dia bbm gini, “mas kamu cepet kesini sekarang, penting banget! Sekarang!!”

Tanpa sempet kubalas akupun langsung ke parkiran dan menggeber motor 150cc ku dengan kencang menuju kost Rani. Sesampainya di depan kost keadaan sangat sepi, Rani yang mungkin mendengar suara motorku pun berjalan keluar menghampiriku yang berada dibalik pagar teralis tembok kost nya. Aku mendekatinya dan bertanya padanya, “ada apa sih jam segini nyuruh dateng? Kamu baik baik aja kan?” Rani hanya tersenyum dan mencubit pipiku..


“gakpapa kok mas, aku pengen aja mas kesini” Lega aku denger jawaban dia yang baik baik aja, tapi ada perasaan dongkolnya juga jam segini dikerjain kayak gini. Aku dan Rani masih terpisah oleh pager teralis, dia kemudian meremas si otong yang masih terbungkus celana jeans.. gak jelas apa mau dia. Kemudian dia membuka resleting celanaku.

Aku hanya diam dan membiarkan dia melakukan apa yang dia mau. Dia mengeluarkan penisku dari celanaku dan dia langsung jongkok kemudian melahap penisku sampai ke pangkalnya. Sensasinya aneh banget, kami masih terpisah oleh pager teralis dan dia sedang mengulum penisku. Tanganku hanya pegangan pada teralis dan merasakan nikmatnya sensasi ini.

Dia sudah sangat mahir memanjakan penisku. Sepuluh menit kemudian aku sudah gak tahan lagi dan akhirnya muncratlah pejuhku memenuhi rongga mulutnya. Rani langsung menelan semua pejuhku dan kemudian mengulum penisku sampai bersih. Rani memang sudah gila dalam berfantasi sex, dan untungnya aku yang jadi partner permainan sex nya.

Betapa beruntungnya aku. Hahaha….. Rani pun berdiri dan mengusap pipiku, “enak gak mas? Maaf ya tadi gak bilang dulu, kan kejutan.. hehe…” Gemes aku liat tampang dia yang sok manja gini.. kucubit hidungnya dan aku tinggal dia.. saat aku sudah menaiki motorku dia pun melambaikan tangannya… kubalas dengan lambaian tanganku dan aku tancap gas pergi dari situ… 

Masih terbayang sensasi perbuatan si Rani tadi.. aku menjalankan motorku pelan sambil menikmati suasana malam di kota pelajar ini.. Tujuanku selanjutnya adalah ke angkringan langgananku di daerah deket kantor koran lokal disini. Saat melewati jalan yang sudah sepi ditengah kota aku dikejutkan oleh mobil dari arah belakang yang tiba tiba memepetku, aku banting arah ke kiri dan menabrak trotoar hingga terjatuh, beruntung aku hanya melaju pelan dan masih baik

Kulihat sebuah mobil SUV yang tadi memepetku ban depan sebelah kirinya naik ke trotoar, mobil itu langsung tancap gas, spontan aku meraih motorku dan mengejar mobil itu. Saat aku mengejar mobil itu tampak dari belakang mobil itu melaju gak beraturan, zig zag seenaknya sendiri. Aku berfikir mungkin pengendaranya mabuk.


Daripada aku mengejarnya dan menyuruhnya berhenti tar malah beneran kesrempet. Jadi aku putuskan buat ngikutin mobil itu sampai berhenti dan akan kubuat perhitungan dengan pengendaranya! Rasa marah masih menyelimutiku dan aku terus mengikuti mobil itu. Sampai pada suatu daerah dipinggiran kota mobil itu berbelok masuk ke arah perumahan elite yang sudah terkenal di kota pelajar ini.

Aku tepat berada dibelakang mobil itu saat melewati pos satpam, aku hanya mengangguk dan membunyikan klaksob saat melewati pos satpam dan terus melaju masuk mengikuti mobil itu. Mungkin si satpam ngiranya aku temen orang yang didalam mobil itu jadi bisa ikut masuk. Sampai akhirnya mobil itu berhenti pada sebuah rumah yang terbilang mewah tapi kecil.

Si pengendara pun akhirya keluar dari mobil, ternyata pengendara itu berbadan atletis dan berambut cepak, kayaknya dia oknum aparat. Sempet ciut juga nyaliku buat membalas perbuatanya tadi. Orang itu membuka pintu garasi dengan sempoyongan dan memasukan mobilnya kedalam garasi. Saat itu aku nekat buat ngasih satu bogem mentah untuk balas dendam. Aku turun dari motor masih mengenakan helm dan berjalan ke arah orang itu.

Aku lepas helm ku dan aku hujamkan tepat mengenai kepalanya sekuat tenaga. Orang itu pun jatuh tersungkur tak bergerak. Saat aku hendak meninggalkan tempat itu kulihat didalam mobil di jok penumpang ada sesosok mahluk jelita tertidur. Aku membuka pintu dan terlihatlah dengan jelas sosok wanita itu. Wajahnya cantik dan berkulit mulus.. belahan dadanya yang montok terlihat jelas karena dia memakai dress ketat warna merah yang ketat dan menunjukan lekuk tubuhnya..

Kembali hasrat si otong untuk nyari mangsa pun timbul. Aku berlari ke arah motorku dan memasukanya ke garasi. Kututup pintu garasi dan aku menghampiri laki laki yang pingsan karena kupukul tadi. Aku mencari sesuatu untuk mengikatnya, aku masuk kedalam rumah dan menemukan lakban disamping TV. Kugunakan lakban itu untuk menjerat tanga dan kaki orang itu.


Mulut dan matanya pun kututup dengan lakban. Aku kembali ke mobil dan menggendong wanita itu keluar dari mobil, aku gendonh dia masuk kedalam rumah. Saat melewati ruangan besar didalam rumah itu aku melihat foto besar menempel di dinding. Itu adalah foto pernikahan wanita yang kugendong ini dan orang yang kuikat tadi. Wanita itu tetap diam walau kugendong, bau alkohol tercium jelas dari mulutnya.

Pasti wanita ini mabuk berat. Aku rebahkan dia di sofa depan TV. Sejenak kuamati tubuhnya yang mempesona itu, dress mini nya tersingkap hingga ke pangkal pahanya dan mempertontonkan G string yanh dia pakai. Bentuknya yang mini tidak muat menampung bulu bulu vaginanya.

Tanpa basa basi karena aku memang udah sange banget aku langsung pelorotin G string warna hitam berenda yang dipakainya. Dan akhirnya terpampang dengan jelas gundukan mungil dengan lubang yang kelihatan masih rapet dihiasi bulu bulu lembut yang tebal dan rimbun disekelilingnya. Langsung saja kulahap vagina wanita itu, harum sekali vaginanya.

Aku korek korek lubang vaginanya dengan jari tengahku. Lidahku pun dengan gencar mengerjai klitoris wanita itu. Perlahan tubuh wanita itu mulai bergerak, pinggulnya naik turun menerima rangsanganku. Vaginanya pun mulai basah dan terciumlah bau khas vagina yg memang aku sukai. Tanpa berlama lama aku melepas celanaku yang sudah sempit gara2 penisku berontak minta jatah.

Langsung aku memposisikan penisku mengarah ke vagina wanita itu. Perlahan pebisku kumasukan kedalam vagina wanita itu sampai mentok. Kudiamkan sejenak sambil kupelorotkan bagian atas dress wanita itu. Ternyata dress itu memang didesain tanpa harus mengenakan bra, dan sekarang terpampanglah toket montok yang dari tadi belum kujamah samaskali.


Kuremas remas toket wanita itu, terasa kenyal dan masih kenceng. Perfect banget deh pokoknya. Aku pun menindih wanita itu dan mencumbu bibir mungil wanita itu dengan rakus. Aku memompa vagina wanita itu dengan kecepatan penuh. Wanita itu pun tanpa sadar mulai mendesah dan menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri dengan mata masih terpejam. Vaginanya masih terasa sempit banget..!!!

Tanpa ganti posisi aku terus menghajar vagina perempuan itu dengan kecepatan penuh. Sampai kurasakan aku udah mau nyampe dan kupercepat genjotanku! Creettt creeet…. pejuhku pun menyembur didalam vagina perempuan itu.. aku terkulai lemas menindih tubuh perempuan itu, penisku masih menancap dalam di vaginanya… Perlahan penisku mulai mengecil dan keluar sendiri dari vagina perempuan itu.

Aku beranjak menuju ke dapur mencari minuman dengan masih telanjang. Setelah minuman kudapat dan dahagaku terpuaskan aku hendak kembali lagi ketempat perempuan tadi, tapi saat melewati salah satu kamar aku penasaran dengan isi kamar itu. Aku pun masuk dan menggeledah isi kamar. Saat aku mau membuka satu laci tapi laci itu terkunci.

Makin penasaran aku ama isi didalemnya.. kulihat ada sangkur di salah satu meja di kamar itu.. aku pakailah untuk mencongkel laci itu. Dan setelah terbuka aku pun kaget, didalamnya ada sepucuk pistol beserta satu box pelurunya. Ada juga uang dengan jumlah yang lumayan banyak. Tanpa pikir panjang aku pun menggambil pistol dan pelurunya.

Aku keluar kamar dan ketempat perempuan yang kuperkosa tadi. Aku pun kaget karena sudah ada seseorang disana yang sedang berada di dekat perempuan itu, dia terlihat sedang membangunkan perempuan itu, entah dengan bahasa mana tapi aku gak tau ngomong apa dia.. Tampak dari samping tempatku berada saat ini sesosok perempuan yang masih ABG dan mengenakan baby doll warna pink. Rambutnya panjang dan terikat rapi.


Aku pun mengeluarkan pistol yang tadi kubawa dari kamar dan perlahan mendekati mereka berdua. Perempuan yang tadi kuperkosa masih tergolek di sofa dan dalam poisi yang sama. Vaginanya masih terlihat jelas mengucurkan sisa sia pejuh yang tadi kusemprotkan didalamnya. Setelah kurasa cukup dekat, aku mendekap perempuan ABG tadi dari belakang dan menodongkan pistolku tepat di pelipisnya.

kau diam atau mau kupecahkan kepalamu!!” perempuan itu sedikit meronta mungkin karena dia kaget, tapi setelah dia menyadari bahwa ada pistol yang menempel di kepalanya dia pun mengangguk, aku masih membekap mulutnya dan perlahan melepaskan bekapanku. “jangan bergerak, sedikit saja kamu berbuat yang aneh aneh akan kutembak!! Cepat duduk !!” dia pun duduk dan tidak berani memandang wajahku, terlihat tubuhnya gemetaran. “siapa namamu?” tanyaku.

Dengan nada ketakutan dia menjawab, “ci Susan..”. aku pun mengamatinya, tampak wajahnya yang ayu dan mempesonaku, toketnya yang sedari tadi lolos dari pengamatanku ternyata sangat montok, sangat tidak serasi dengan tubuhnya yang mungil. Jadi keinget ama model Vietnam yang bentuk bodinya mirip ama dia, iya Elly Tran Ha. Tubuh Susan klo mau dibayangin ya kayak itu.

Dia duduk disamping poerempuan yang kuperkosa tadi. Aku menunjuk kearah wanita tadi dan kutanya Susan, “dia siapa?” dengan agak ragu dia menjawab, dia kakak sepupu saya, saya numpang tinggal disini. “kamu masih sekolah?”. Susan pun meneteskan airmatanya dan sedikit melirik ke arahku. “saya baru mau masuk kuliah, saya baru seminggu ikut tinggal disini”.

Si otong mulai cenad cenud lagi, dia duduk tepat diantara dua paha kakaknya yang dari tadi masih terbuka lebar bekas kupake, vaginanya yang tembem dan berbulu lebat masih terlihat basah dan mengundang napsuku. Dari itu aku mulai ada niat buat mengerjai Susan, sayang kan kalo dilewatkan.

“sekarang kamu turutin kata kataku atau kau mati!! Mengerti??!!” Susan pun memandang kearahku, “iiya..” .

aku mendekatinya dan mencium aroma tubuhnya, bau keringat yang sangat menggairahkan dan dia terlihat napsuin pas keringetan gini, mungkin karena dia tegang dan ketakutan jadinya dia banyak berkeringat. “sekarang kamu jilat vagina kakak kamu, bersihkan sisa pejuhku, aku masih pengen make kakakmu lagi!! Cepat!!!” Susan pun tampak ragu mendekatkan mukanya ke selangkangan kakaknya, lalu aku pegang tengkup kepalanya dan mendorong kea rah vagina kakaknya.

Mulutnya tepat menempel di vagina kakaknya. “cepat kamu jilat dan hisap sampai bersih!!” Susan pun mulai menghisap vagina kakaknya, aku menikmati pemandangan seperti ini karena sebelumnya aku belum pernah melihat secara langsung, hanya nonton di bokep jepang doank kayak gini.. haha…

Setelah sekitar lima menit kubiarkan Susan menghisap vagina kakaknya aku pun mulai mengelus pantatnya yang menggemaskan. “kamu masih perawan gak neng?”

Susan pun menghentikan hisapannya, “eng enggak..”. melegakan banget bagiku, karena aku paling males urusan ama darah. “ ternyata kamu lonte juga ya sama kayak kakakmu!!”

Susan tidak membalas perkataanku.

“sekarang kamu emut ini punyaku” kusodorkan si otong yang daritadi udah tegak berdiri.

Susan pun perlahan mulai menciumi penisku, dengan masih ragu dia mulai membuka mulutnya dan melahap kepala penisku. Belum lama dia mengulum penisku aku pun dibuat meringis karena si otong diadu ama giginya. “anjing!! Bisa nyepong gak sih!!”


kudurong tubuh Susan hingga terhempas ke sofa. Tanpa baa basi lagi aku memelorotkan celananya beserta CD nya sampai ke dengkul, lalu aku menempatkan kakinya di pundakku, dengan dia masih memakai celana langsung mengarahkan penisku le liang senggama Susan. Aku pun menghentakan dengan keras hingga penisku masuk seluruhnya kedalam vagina Susan yang ternyata masih sangat sempit.

“aaaaahhhhhh sakiiiiittttt….” Dia spontan menjerit karena hentakanku. Tanpa mempedulikannya akupun menggenjot vagina Susan dengan cepat!
“aaahhh aammppuuunn… uuuddaaaahhh… jangaaaannn…”

sepuluh menit aku terus menggenjot tubuh Susan hingga nafasku mulai habis, aku melepaskan tubuh Susan dan penisku pun tercabut. “Sekarang kamu lepas semua bajumu.” Sekali lagi aku menodongkan pistol kea rah Susan. Aku duduk di sofa diantara Susan dan kakaknya.

Susan berdiri dari duduknya dan melepaskan celananya, setelah itu dia mulai membuka kancing baby doll yang dia pakai dan nampaklah bra warna pink bergambar Hello Kitty yang dia pakai, bra yang dia pakai kelihatan gak muat nampung susu nya yang super montok itu. Dia dengan nafas masih tersengal sengal melepaskan bra imutnya itu daaaan nampaklah payudara paling wow yang pernah kulihat langsung!

“sekarang kamu jepitin ini kontolku pake susu kamu!! Cepat!!” Susan pun berjongkok didepanku dengan kedua tangannya memegang susunya, dia mulai menjepit penisku yang masih keras itu diantara dua gunung kembar miliknya. Aku goyang goyangkan pinggulku dan terasa sensasi yang baru kali ini kualami, penisku dijepit susu montok milik gadis ABG yang cantik dan menggemaskan.

“sekarang kamu duduk di pangkuanku dan masukin kontolku ke memek kamu!!” sesuai perintahku dia pun duduk di pangkuanku dan tanggan kanannya membimbing penisku masik kedalam vaginanya.

“cepat kamu sekarang goyang!!” Susan pun menggerakkan pinggulnya naik turun, terlihat dia mulai penikmati pemerkosaan ini. Kubiarkan Susan dengan sensasinya sendiri dan terus mengobel penisku. Aku iseng mulai mengerjai kakaknya lagi, kumasukkan jari tengahku kedalam vagina yang udah mulai mongering. Dengan payudara Susan yang tepat didepan mukaku aku pun tidak menyia nyiakannya, kuhisap dengan rakus kedua susunya bergantian, Susan pun sekarang mulai mengeluarkan suara lenguhan dan desahannya, “aaahhh oooohhhhh…..”

tidak kuat lama dengan sensasi vagina Susan yang semput itu aku pun membopng tubuh Susan dan mendorong tubuh kamu berdua ke lantai, dengan posisi aku menindih tubuh Susan akupun menggenjot nya dengan ganas! Tidak berselang lama akupun menyemburkan pejuhku didalem vagina Susan. Terasa penisku berdenyut nikmat didalam vagina sempit Susan. Kulihat Susan hanya menangis tersedu menerima perlakuanku. Niatku yang tadinya mau make kakaknya lagi udah hiang, jackpot malam ini udah kudapatkan!


sekarang kamu berdiri dan masuk ke kamar!!” aku menggiring Susan ke kamar yang tadi kumasuki dan menguncinya dari luar, itu agar dia gak bias macem macem sewaktu aku mau pergi. Aku pun mengenakankembali baju dan celanaku. Penisku masih lengket, bau vagina Susan pun masih tercium dengan jelas.

Aku berjalan kearah garasi yang disana ada laki laki yang tadi kuikat, aku berjalan melewatinya dan dia tampak masih belum sadar. Aku membuka sedikit pintu garasi dan mengeluarkan motorku. Dengan tingkah yang wajar aku pulang mengendarai motor kesayanganku dengan puaasss..

Aku dengan mudah melewati pos satpam kompleks karena satpamnya tertidur.. aku langsung pulang ke kost dan merebahkan badanku ke kasur kecilku.. aku raih Hp ku dan kulihat ada dua bbm masuk. Satu adalah bbm dari Rani yang menanyakan keberadaanku dan satu lagi ternyata adalah Friend Invitation dari Vera temen kost Rani. “darimana dia dapet pinku, dan mau apa dia” gumamku dalam hati, aku emang kenal Vera tapi Cuma sebates kenal saja, belom pernah ngobrol sama sekali. Mungkinkah ada hubungannya dengan ulahku di kost???

Klik Games-NYA

Share:

Cerita Sexsex Puas Tububuhku Mengejang, Orgasme dan Aku Pipis Kembali

Sexsex Puas - Malam itu kita makan bertiga , Aku Hendrik dan Dayat , mereka berdua membahas soal keberangkatan Hendrik . Akhirnya di sepakati Dayat tetap tinggal di rumah kami , sementara Hendrik berangkat ke Singaopre .

Cerita Sexsex Puas Tububuhku Mengejang, Orgasme dan Aku Pipis Kembali


” Dayat , elo jaga rumah yah , sekalian jaga bini gua tuh ..” kata Hendrik .

Dayat hanya tersenyum.

” beres bos?? jawabnya sambil bersenda gurau .

Saat mereka berbicara , aku mengambil kesempatan unutk masuk ke kamar , dan membasuh memekku , serta menganti CD ku .

Selesai makan malam itu , Hendrik masuk kamar , lalu kami bercinta . Malam itu Hendrik begitu bernafsu , dia main hingga 3 kali . Aku pun melayaninya dgn nafsu juga .

Saat itu aku mulai merasakan perbedaan , antara permainan Hendrik dan Dayat . Aku merasakan permainan Dayat , memang lebih hebat , entah karena ukuran k0ntolnya , atau karena perasaan aku saja .

Jam 7 pagi , Hendrik berangkat ke airport , di antar Dayat . Hendrik mencium keningku ,

“mami , I love you ..” katanya .

Mobilnya pun segera berangkat , dan aku kembali ke kamarku , berbaring . Pikiranku menerawang . Aku benar benar wanita gila sex . Dalam semalam , aku bermain dgn Dayat , dan sejam kemudian dgn suamiku . Aku mulai merasakan bedanya nikmat yg di berikan Dayat . Dan aku mulai merindukan Dayat .

Rasa bersalahku terhadap Hendrik pudar , aku menjadi egois . Dalam hati aku menyalahkan suamiku ,sehingga aku berselingkuh , kenapa Hendrik tdk bermain seperti Dayat , Semua pikiran ini hanya untuk menutupi kesalahanku .

Malam hari setelah Hendrik berangkat ke Singapore , aku diam di dalam kamar . Aku sepertinya ragu untuk keluar kamar . Aku tahu di luar sana ada Dayat . Sisi gelap dari diriku terus mendorong diriku untuk mencari perhatian Dayat . Sedang sisi terangku melawannya .

Aku hanya diam , berbaring , menatap langit langkit kamarku . Aku memang wanita jalang , wanita gila sex .. itu semua yg aku pikirkan tentang diriku .

“..tok , tok ?? bunyi ketukan pintu kamarku membuyarkan semau lamunanku .

Aku tahu itu pasti Dayat .

Aku segera merapikan gaun tidurku , berjalan ke pintu dan membuka pintu kamarku .

” ada apa Dayat ..? tanyaku .

Tanpa permisi lagi , Dayat langsung masuk ke dalam kamar tidurku .

” Riana , ini hadiah buat kamu ?? katanya sambil memberikan aku sebuah kotak .
“hadiah apa ini?? tanyaku . Dayat tersenyum ” buka saja” .

Aku mem buka bungkusan kertas pink kotak itu , dan membuka kotaknya . Isinya sebuah baju tidur berwarna merah , yg tipis , lengkap dgn CD mininya . Aku menatap Dayat , dia tersenyum ,

” ayo , coba di pakai sayang?? . Entah kenapa , hatiku seakan luluh , aku tak tahu , aku menjadi bergairah .
Aku berjalan masuk ke kamar mandi , dan aku menganti gaun tidurku dangan baju tidur tipis yg di berikan Dayat .

Baju tidur yg SEKSI itu , ku pakai . Aku juga memakai CD mininya dari bahan yg sama . Aku tak mengenakan bra . Aku menatap ke cermin , melihat tubuhku yg sexy dgn baju tidur ini .

” bertahun tahun menikah dgn Hendrik, belum pernah sekali pun dia memberiku hadiah seperti ini ?? ujarku dalam hati.

Setelah puas membolak balik badanku , berkaca didepan cermin , aku keluar dari kamar mandi . Dayat menyambutku dgn senyuman ,

” Riana , kamu benar benar cantik dan sexy ? .


Dia meraih tanganku , dan mendudukkan ku di pinggir ranjang. Lalu dia mengecup bibirku , dia memperlakukanku seperti istrinya saja . Dari saku bajunya dia mengeluarkan sesuatu . Bungkus benda itu di bukanya . Benda seperti kapsul , itu berwarna transparan .

” hei ..itu apa Dayat ?? tanyaku .
” ini obat perangsang?? jawabnya . Aku mengerutkan dahiku , “aku tak butuh obat itu?

Dayat tersenyum ,

” ini bukan obat perangsang biasa ..” katanya .

Lalu dia membawa obat itu ke arah selalngkanganku . Aku menghindar

” hei ..jangan?? kataku .

” Riana percaya deh , kamu akan merasakan nikmat yg luar biasa?? katanya .

Aku diam menatapnya . Lalu aku merasakan jari Dayat menyelinap di balik celana dalamku , dan kapsul itu di dorong masuk ke liang memekku . Dgn jarinya dia terus mendorong masuk kapsul itu . Aku mengigit bibirku . Lalu dia mengeluarkan jarinya , dan merapikan kembali celana dalamku .

Aku diam , tp jantung dag dig dug , obat apa yg dimasukan Dayat ke dalam memekku .

Aku jelas merasakan ada sesuatu benda kecil yg menganjal di dalam liang memekku . Satu menit berlalu aku tak merasakan apa apa . 5 menit berikutnya , aku merasakan kapsul itu seperti mencair . Rasa ganjalan di liang memekku menghilang .

Tp aku sama sekali tak merasakan apa apa . Dayat tersenyum menatapku , lalu dia mulai melumat bibirku dgn nafsu . Aku pun mengikutinya , kami berciuman dgn panas . Lepas melumat bibirku , Dayat menarik tanganku dan memintaku berdiri . Aku ikuti permainannya .

Tangannya pun langsung meraba bidang dadaku . Buah dadaku sasarannya . Dari luar pakaian tipis itu jarinya mengitari putting susuku . saat itu juga aku merasa terangsang . Birahiku meningkat drastis . Aku menggigit bibirku , dan Dayat terus meraba raba putting susuku yg sudah menonjol dan keras itu .

Lalu tangannya menyusup ke balik baju tidur tipisku itu . Dan langsung memainkan putting susuku . Aku mendesah”..ashhh Dayat…ih..aku ..aku..nafsu banget?? ujarku , tanpa bisa menyembunyikan rasa malu . Dua tangannya menyelinap masuk , meraba raba buah dadaku yg sudah keras itu .

Aku merasakan hal yg lain , buah dadaku menjadi begitu sensitif . Tak lama tangan kanan Dayat turun ke bawah , mulai meraba raba pahaku . Lalu sebelah kakiku di angkat , dan di tumpukan pada pinggir ranjang. Tangan kananya itu terus meraba raba pahaku , sedang tangan kirinya merabai buah dadaku . Aku terus merasa nikmat , dan mulutku tak henti mendesah desah .

Saat tangan kanan Dayat , berjalan ke arah selangkangan celana dalamku yg sudah basah itu , dan tepat menyentuhnya , Aku menjerit

“.. Aghhh … Dayataaa?. ? . Aku merasa di sengat aliran listrik .

Jari Dayat terus meraba raba selangkangan celana dalamku . Klitorisku membesar , aku benar benar terangsang hebat . Tubuhku seperti gematar .

Tak beberapa lama , aku merasa orgasmeku sudah mendekat .

” Aghh Dayat ..aku sudah gak tahan.. itil nya gatel banget?? kataku tanpa malu . tekanan kuat dari dalam perutku , rasanya seperti ingin pipis .

Jari Dayat terus meraba raba selangkangan celana dalamku dgn lembut .

” ahh..”

Tubuhku mengejang , aku menjerit panjang

“.. Dayat..aku keluarrr..” . Tubuhku mengejet , dan tanpa bisa aku tahan , air seniku meluncur keluar begitu saja .

Aku benar benar merasakan orgasme yg luar biasa , dan aku merasakan tubuhku menjadi lemas . Dayat berdiri dan memelukku , lalu dai memangku-Ku , duduk di pinggir ranjang .

Dayat menciumi leherku , dan birahiku langsung timbul lagi .

” sayang , enak gak ?? tanyanya .
“Dayat ..enak ..enak sekali” Kataku .


Kembali Dayat membuka lebar ke dua kakiku . Sambil memangku diriku , tangan Dayat kembali meraba selangkangan celana dalamku . Dia tak peduli celana dalamku yg basah oleh air pipisku .

” ashhh.. Dayat..saya nafsu lagi..” erangku .

Jari Dayat terus bermain di selangkangan celana dalamku , membuat birahiku terus meninggi . Tak lama Jari jari menyusup di balik celana dalamku , dan memainkan klitorisku . Aku kembali menjerit , kenikmatan .

” Dayat .. aghhh..Dayat..aghh.” erangku .

Sebentar saja aku merasa akan orgasme lagi , Dan Dayat semakin cepat memainkan klitorisku . ” Dayat..aku mau keluar lagi” erangku .

“yah , keluar saja ..ayo ” bisik Dayat di telinggaku , sambil mempercepat getaran jarinya di atas klitorisku . Tubuhku kembali mengejang , dan aku orgasme kembali , dan aku pipis kembali , begitu saja .

Air pipisku membasahi lantai kamarku , tp aku tak menghiraukannya . Lalu Dayat mulai melepas pakaianku , lalu aku berbaring di ranjang . Dayat juga melepas seluruh pakaiannya. Aku berbaring dan melebarkan ke dua kakiku , aku sudah tak tahan ingin segera merasakan k0ntol besar dan hitam milik Dayat .

” Dayat , ayo masukin ..” ujarku. Tp Dayat hanya tersenyum .
” Dayat please , masukin aku pingin ?? kataku memintanya .

Tp Dayat meraba raba bukit memekku , memainkan bulu bulu di atasnya .

“sabar sayang , malam ini malam panjang..saya pasti akan masukin,sabar” kata Dayat .

Aku hanya diam lalu Dayat berkata.

” Riana , bulu bulu ini saya cukur yah” kata Dayat .
“ha..jangan ..nanti ketahuan Hendrik dong?? kataku .
” kamu tdk pernah mencukur bulu kemaluan kamu ? ? tanya Dayat . Aku menggeleng . Dayat tersenyum
” bilang saja , kamu mau memberi kejutan pada Hendrik ..” kata Dayat .

Aku menggeleng

” enggak ..jangan Hendrik pasti gak percaya , dan akan marah..” kataku .

Dayat terus merayuku , dia ingin sekali mencukur bulu kemaluanku . Tp aku bersikeras menolaknya . Akhirnya dia mengalah .

“Oke deh kalau gak mau ..? kata Dayat .

Aku kembali memintanya untuk memasukan k0ntolnya ke memekku . Aku sudah benar benar tak tahan ,aku yakin semua ini karena pengaruh obat perangsang itu .

Aku tahu diriku , walau aku suka sex, tp aku masih punya harga diri . Tp kini harga diriku seakan hilang .
Dayat tdk memasukan k0ntol , tp dia mengarahkan k0ntolnya ke wajahku

” Riana sayang , isepin dulu dong?? pintanya .

Aku tak bisa menolaknya , k0ntolnya memang membuat aku nafsu , aku menjulurkan lidahku dan mulai menjilatinya .
Dayat mengerang kenikmatan

” aghh ..iyah ..enak sekali ” erangnya , sambil memegang k0ntolnya .

Tp tak lama Dayat memintaku untuk mengulumnya , aku menurutinya , mulutku membuka lebar , dan k0ntol besar itu mulai menyodok nyodok mulutku .


Tangan Dayat memang kepalaku , lalu dia mendorong k0ntolnya maju dan mundur . Dia melakukannya dgn kasar , aku tersedak beberapa kali . Aku meronta , tp Dayat memegang kepala dgn kuat . Saat itu aku seperti di perkosa , tp entah kenapa aku seperti tambah bergairah .

” ughh..ugghhhh .” suaraku tersumbat k0ntol besarnya , tubuhku terus meronta ,tp Dayat semakin kuat memegang kepalaku .

K0ntolnya terus bergerak dalam mulutku , mendorong masuk hingga kerongkonganku .

Dayat bertahan cukup lama , walau akhirnya dia juga ejakulasi . Aku merasakan cairan spermanya yg panas , menerpa mulutku . Saat k0ntol lepas dari mulutku , aku memuntahkan seluruh sisa sepermanya .
Sikap Dayat kembali lembut , dia membelai rambutku , dan melap mulutku dgn tissu , lalu mengecup bibirku .

“terima kasih sayang , kamu benar benar membuatku puas ..” ujarnya .

Aku hanya diam menatapnya .

” tunggu sebentar sayang saya ambil air dulu “katanya seraya memakai kimono , milik Hendrik , lalu dia keluar kamar tidurku .

Tak lama , Dayat kembali dgn segelas air dingin , memberiku minum , aku merasa segar dgn sejuknya air dari lemari es itu . Lalu Dayat kembali menciumi bibirku , dan tangannya mulai meraba raba buah dadaku lagi . Aku pun kembali bersemangat . Memekku berdenyut kembali .

“ahhhs..Dayat..” , masukin ..saja?? pintaku.

Dayat tersenyum

“sabar sayang ..masih lemes nih ” ujarnya , sambil memperlihatkan k0ntolnya yg sudah mengecil .

Aku hanya diam , tersenyum dalam hati . Lalu jarinya kembali meraba raba klitorisku , membuat aku bernafsu kemabali .

” aghhhhh.. Dayat..” erangku , saat Dayat memasukan jarinya ke dalam liang memekku .

Jarinya bergetar di dalam liang memekku , membuat aku merasa nikmat . Jari itu bergerak keluar masuk , dan kadang bergetar .

“Dayat..ahhh..Dayat..enak ..ahhh” erangku .

Aneh sebentar saja , tubuhku kejang , aku orgasme , dan tanpa terasa air pipisku kembali keluar , membasahi ranjangku .

Dayat tersenyum , aku seperti di permalukannya . Sesaat kemudian jarinya memainkan klitorisku lagi . Birahiku kembali naik . Liang memekku berdenyut .

” aghh.. Dayat.. aghh” erangku .

Aku benar benar di buatnya nafsu .

” Dayat ..colok kayak tadi dong?? pintaku , agar Dayat memasukan jarinya di liang memekku .

Dayat tersenyum , lalu aku merasakan laing memekku agak nyeri ,” Dayat . Dayat ..aghh , satu saja ..sakit..” erangku . Tp Dayat hanya tersenyum , dua jarinya menyodok nyodok laing memekku . memasukan dua jarinya dalam liang memekku .

Aku protes

Aku merasa tak nyaman , tp Dayat seperti tak perduli . Dua jarinya terus menyodok nyodok liang memekku keluar masuk dgn cepat .

Tp tak lama , rasa nyeri itu hilang dgn perlahan , mungkin liang memekku bisa beradapatasi , atau apa , aku tak jelas . Yg jelas aku kembali merasa nikmat . Jari Dayat terus bergerak menyodok nyodok laing memekku . Dan aku dibawanya ke puncak kenikmatan lagi . Aku orgasme , dgn mengeluarkan air pipisku

Tubuhku terasa semakin lemas . Aku melihat k0ntol Dayat sudah kembali tegak , tp birahiku sudah mulai surut . Dayat mulai membuka lebar kedua kakiku . Dan k0ntolnya yg sudah tegang itu segar masuk ke dalam liang memekku .

” aghhh.. ?? jerirtku .

K0ntol besarnya segera menyesaki ruang di dalam memekku . lalu dia mulai menggoyang tubuhnya ,dan k0ntolnya bergerak maju dan mundur .

” uuuughhh Dayat..” erangku sambil memegang pundaknya .

Walau aku merasa lemas , dan lelah , tp aku tetap orgasme . Tubuhku kejang dalam pelukkan Dayat .


Air pipisku pun mengalir ,dan Dayat hanya tersenyum saja . Lalu dia mulai memompa memekku lagi . Aku mengalami orgasme beberapa kali saat Dayat menyetubuhiku , malam itu , hingga tenagaku terkuras habis , Aku seperti tak sadarkan diri , aku tertidur .

Aku tak tahu apa yg dilakukan Dayat pada diriku malam itu .

Ketika aku tersadar esoknya , waktu sudah menunjukan pukul 1,00 siang . Aku tak pernah tidur selama itu . Aku melihat sekeliling kamarku , tak ada Dayat di sana . Aku lalu masuk ke kamar mandi , membersihkan tubuhku , dgn air hangat . Aku begitu terkejut , saat melihat bulu bulu kemaluanku telah hilang . Bukit kemaluanku licin, bersih tanpa bulu .

” Dayat ..kamu benar benar gila ” umpatku dalam hati .

Klik Games-NYA

Share:

Label

333
333
333